wayang kulit

Wayang Kulit dan Golek Dalang Entus dan Anom Suroto Video Pertunjukkan Indonesia Terbaik

Wayang Kulit – Pengertian wayang adalah boneka tiruan yang terbuat dari pahatankulit atau kayu dan sebagainya yang bisa dimanfaatkan untuk memerankan seorang tokoh dalam sebuah pertunjukkan drama tradisional (Jawa, Bali, Sunda, dan sebagainya), wayang biasa dimainkan oleh seseorang ahli yang disebut Dalang.

Sedangkan pengertian wayang menurut Kamus Umum Bahasa Sunda adalah boneka atau penjelmaan dari manusia yang bisa terbuat dari kulit maupun kayu. Akan tetapi ada juga yang mengartikan bahwa perkataan wayang berasal dari Bahasa Jawa yang memiliki arti perwajahan yang mengandung penerangan.

Sampai saat ini seni wayang merupakan salah satu bentuk teater tradisional tertua di Indonesia. Pertunjukkan wayang sudah ada sejak masa pemerintahan Raja Balitung, hal ini ditemukan pada prasasti Balitung tahun 907 Masehi.

Seni wayang di Indonesia berkembang pada abad ke-4 orang-orang Hindu datang ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Pada waktu itu orang-orang Hindu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan epos cerita maha besar India yaitu Ramayana dan Mahabharata dalam bahasa Sanskrit.

Lalu pada abad ke-9 bermunculan cerita-cerita dengan bahasa Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang sumbernya dari cerita Ramayana atau Mahabharata dan sudah diadaptasi.

Sejarah Wayang di Indonesia

wayang kulit
via wayangkulitIndonesia . com

Wayang merupakan salah satu wujud dari teater tradisional yang paling tua. Pertunjukan wayang ini sudah ada sejak masa pemerintahan Raja Balitung yang terdapat dalam prestasi Balitung tahun 907 Masehi, yang mewartakan bahwa pada masa itu sudah dikenal adanya pertunjukan wayang.

Wayang sendiri asalnya dari kata wayangan yaitu sumber ilham dalam menggambar wujud tokoh dan cerita bisa tergambar jelas dalam hati seorang penggemar karena sumber aslinya yang sudah hilang.

Awalnya, wayang merupakan bagian dari kegiatan keagamaan animisme menyembah “hyang“. Dilaksanakan ketika masa panen dalam bentuk upacara tingkeban, ruwatan ataupun yang lainnya, dengan tujuan agar panen berhasil atau supaya Desa terhindar dari segala macam bencana dan malapetaka.

Kemudian pada tahun 898 – 910 M wayang telah berubah menjadi wayang purwa, akan tetapi tetap ditujukan untuk menyembah para sanghyang sebagaimana yang tertulis dalam prasasti “balitung sigaliga mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara (menggelar wayang untuk para hyang menceritakan tentang bima sang kumara) di zaman Mataram Hindu, Ramayana dari India berhasil dituliskan dalam Bahasa Jawa kuno (kawi) pada masa raja darmawangsa 996 – 1042 M.

Wujud prasasti berupa lempengan tembaga dari Jawa Tengah; Royal Tropical Institu, Amsterdam, contoh prasasti ini bisa kita jumpai dalam lampiran buku Claire Holt Art in Indonesia; Continuities and Changes 1967 terjemahan Prof. Dr. Soedarsono. Dituliskan sebagai berikut.

Peran Wayang Kulit Sebagai Salah Satu Kesenian Indonesia

Wayang Kulit
via pinterest . de

A. Kolerasi Filosfi Kehidupan yang Terkandung pada Seni Wayang Kulit Menjadi Tontonan, Tuntunan, dan Falsafah Hidup

Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan hindu masuk pada indonesia serta mulai berkembang di jaman hindu jawa. pertunjukan kesenian wayang artinya merupakan residu-residu upacara keagamaan orang jawa yaitu sisa -sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme.

Tentang asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih adalah suatu dilema yang belum terpecahkan secara tuntas. namun demikian poly para ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang dan persoalan ini ternyata sangat menarik menjadi sumber atau objek penelitian.

Di kalangan rakyat, wayang artinya bukan hal yang asing. Wayang adalah galat satu warisan budaya bangsa yang telah bisa bertahan, asal saat ke saat, dengan mengalami perubahan dan perkembangan sampai berbentuk seperti sekarang ini. Daya tahan wayang yang luar biasa terhadap aneka macam perubahan pemerintahan, politik, sosial budaya maupun kepercayaan menandakan bahwa wayang mempunyai fungsi dan peranan penting pada kehidupan sosial rakyat.

Ketika ini, fungsi serta peranan wayang tidak lagi difokuskan pada upacara-upacara ritual dan keagamaan, tetapi telah bergeser ke program hiburan yang mengutamakan inti cerita dengan banyak sekali macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, banyak sekali unsure seni, serta unsur pendidikan yang semuanya berpadu dalam seni pedalangan.

Filsafat pewayangan membuat rakyat sebagai penontonnya merenungkan hakekat hayati, dari serta tujuan hayati, manunggaling kawula gusti, kedudukan manusia dalam alam semesta, dan sangkan paraning dumadi yang dilambangkan menggunakan tancep kayon oleh ki dalang di akhir pagelaran (wibisono pada mulyana: 2008).

Keseluruhan pagelaran wayang, sejak dari pembukaan (talu) sampai berakhirnya pagelaran menggunakan tancep kayon, mempunyai kandungan filosofis yang tinggi. Tiap adegan menggunakan iringan gending sendiri-sendiri serta makin usang makin meningkat laras dan iramanya sebagai akibatnya mencapai kulminasi yang ditandai menggunakan tancep kayon, selesainya seluruh problem di dalam lakon terjawab dan berhasil diselesaikan.

Kesemuanya itu mendeskripsikan kompleksitas kehidupan manusia di dunia ini menggunakan segala aspek dan dinamikanya, yang tak tanggal asal kiprah dan kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan dewa juga menjadi makhluk sosial.

Dalam hal ini sudah jelas, menjadi insan yang berbudaya, bangsa indonesia menduga wayang sebagai bagian dari kehidupan yang bernilai tinggi serta luhur. bagi kelangsungan keberadaan wayang ini, paling tidak, terdapat 3 hal yang perlu ditinjau dalam kehidupan publik. pertama, sikap dan etos pragmatis sudah dianut oleh sebagian besar warga.

Ke 2, akibat berasal realitas ini tidak hanya diterapkan pada perilaku ekonomi serta politik, namun pula pada memilih bentuk kesenian serta kebudayaan. ketiga, dampak selanjutnya merupakan budaya massa serta budaya terkenal menjadi kiblat secara umum dikuasai publik.

Wayang adalah seni tradisional indonesia yang terutama berkembang pada pulau jawa dan bali (id.wikipedia.org). sedikit melihat kembali sejaranh singkat wacana wayang pada indonesia, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti yang sangat pada sekali. sunan kali jaga serta raden patah sangat berjasa dalam berbagi wayang.

Para wali pada tanah jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi 3 bagian. pertama wayang kulit pada jawa timur, ke 2 wayang wong atau wayang orang pada jawa tengah, dan ketiga wayang golek di jawa barat. masing masing sangat bekaitan satu sama lain. yaitu “mana yang isi” (wayang wong) dan mana yang kulit (wayang kulit) wajib dicari (wayang golek)”.

B. Peran Wayang Kulit Sebagai Salah Satu Kesenian Luhur dan Agung yang Berbudaya Indoensia

wayang kulit
via youtube . com

Wayang diakui sang UNESCO menjadi warisan budaya bangsa indonesia pada tahun 2003. wayang sebagai “karya agung budaya dunia” yang diakui sang unesco bukan hanya wayang jawa tapi wayang indonesia, termasuk wayang bali, wayang golek sunda, wayang lombok, dll. akan tetapi wayang nan lebih dikenal pada indonesia merupakan wayang kulit jawa.

Suatu tanda-tanda yang patut buat diamati dalam rakyat jawa – yang punya efek kuat dalam rakyat indonesia pada umumnya – adalah masih lestarinya budaya wayang kulit biarpun banyak sekali unsur budaya telah mempengaruhi bangsa jawa maupun bangsa indonesia, termasuk unsur-unsur budaya budha, hindhu, islam maupun barat.

Bukti yang nyata berasal masih besarnya imbas budaya wayang kulit di ketika ini menggunakan masih banyaknya slogan di siaran wayang kulit dilayar tv juga pertunjukan pribadi pada program-acara tertentu.

Hal ini patut dipandang mengingat bahwa budaya wayang kulit ialah budaya tua yang masih bertahan sampai menggunakan waktu ini yg meminjam istilahnya alvin toffler berarti tetap bertahan pada masa gelombang pertama, gelombang kedua, sampai menggunakan gelombang ketiga yg merupakan abad berita dengan komunikasi termasuk internet sebagai tulang punggung pendukung utamanya.

Bertahannya budaya wayang kulit menjadi menarik mengingat bahwa:

  1. Wayang kulit berbasis cerita mahabharata dan ramayana yang dari dari budaya hindhu asal india.
  2. Rakyat jawa secara umum dikuasai beragama islam
  3. Cerita pada wayang kulit berbasiskan cerita ihwal kerajaan yang raja dan ksatria menjadi penekanan utamanya yg berarti semangat dalam ceritanya adalah tata budaya feodal.
  4. Rakyat jawa terpelajar biasanya berbasis pendidikan barat yang tidak mau terpengaruh budaya barat.

Jelas bagi rakyat pada luar indonesia akan terkejut melihat segala kontradiksi yang mungkin timbul dalam kompleksitas rakyat jawa maupun indonesia. oleh karena itu rakyat di luar indonesia tidak mungkin mampu menyelami sepenuhnya manusia jawa atupun Indonesia tanpa mempelajari lebih jauh dampak budaya masalalu termasuk yang sangat akbar pengaruhnya mirip wayang kulit.

Pada hal ini penulis sangat kagum pada Prof. Danys Lombard yang dalam bukunya “Nusa Jawa – Silang Budaya” yg menyadari benar impak wayang purwo/kulit – juga tulisan klasik jawa lainnya seperti babad tanah jawi, serat centini, dll. – dalam kehidupan masyarakat jawa hingga menggunakan waktu ini. Kenapa wayang masih bisa bertahan sampai ketika ini?

Di masa yang lalu wayang kulit digunakan sang rakyat jawa buat keperluan ritual seperti upacara ruwatan. (note: ruwatan adalah upacara yg diadakan buat menolak bala – naas – yang dikarenakan secara alami seseorang dilahirkan menggunakan syarat membawa ke arah malapetaka – atau yang dianggap akan membawa malapetaka – umpamanya: Anak tunggal, anak kembar, anak lelaki yg diapit sang dua anak dan sebagainya).

Upacara lainnya yaitu untuk keperluan keselamatan desa yang setiap bulan suro (awal bulan tahun jawa atau bulan muharam dalam tahun islam) setahun sekali diadakan upacara pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan cerita “bharatayuda” agar pada tahun berjalan desa akan diberi panen yg poly dan keselamatan seluruh warganya.

“Bharatayuda” adalah cerita peperangan antara kurawa dan pandawa yang sesama darah bharata untuk memperebutkan kerajaan indrapasta (amartapura) serta hastinapura, disebut cerita yang sakral yg tidak setiap dalang mampu melaksanakan dan tidak setiap ketika pertunjukan tadi bisa dipentaskan.

Jelas bahwa wayang tidak lepas berasal keseharian kehidupan insan jawa pada masa lalu (yg jua masih hidup pada pedesaan masa sekarang) dalam ritus kehidupan sehari-hari. dianggap bahwa budaya wayang kulit sudah ada bahkan sebelum impak kepercayaan hindu datang dengan bukti adanya unsur punakawan (semar, gareng, petruk, serta bagong) yang tidak ada dalam cerita asli baik ramayana ataupun mahabharata.

Walaupun basis cerita wayang ialah ramayana serta mahabharata tetapi dalam kenyataannya ceritayang dibawakan telah bercampur atau diubah menggunakan cerita yang diperhalus serta disesuaikan dengan budaya jawa menjadi contohnya merupakan :

1. Dewi Drupadi pada cerita mahabharata yg orisinil bersuami 5 yaitu semua pendawa 5 (yudistira, bima, arjuna, nakula, sadewa) dalam pewayangan diceritakan merupakan hanya istri puntodewo/yudistira karena budaya Jawa tidak mengenal poliandri.

2. Gatot Kaca adalah anak Bima yang super besar pada mahabharata serta hanya muncul di ketika perang bharatayuda, dijadikan idola pahlawan yg gagah perkasa pada pewayangan menggunakan aneka macam cerita kesaktiannya dengan ajian-ajian seperti brajamusti yang hingga ketika ini masih mampu dipelajari dikalangan rakyat jawa.

3. Pada mahabarata ttidak diceritakan bahwa masing-masing pandawa 5 diberi daerah kekuasaan, di pada pewayangan diceritakan bahwa arjuna mempunyai daerah teritori namanya madukara, bhima dari jodhipati, gatotkaca asal pringgodhani serta sebagainya.

4. Berasal pertanda pada atas jelas bahwa cerita ramayana serta terutama mahabarata sudah diberikan kandungan lokal sedemikan rupa sehingga mengalami internalisasi serta sangat dekat dengan warga jawa, termasuk memasukkan unsure punakawan didalamnya.

Bahkan pada beberapa tempat di jawa diberi nama daerah yang mengesankan seolah-olah kejadian cerita mahabharata itu memang benar -betul terjadi ditanah jawa. menjadi model: didaerah yang kini dijadikan waduk sempor, gombong, jawa -tengah, nama orisinil desa tersebut adalah cicingguling.

Penduduk setempat percaya tempat tersebut artinya tempat bhima berperang melawan duryudana dengan menghantamkan gadanya pada bagian pahanya sehingga duryudana terpaksa menyisingkan kainnya (celananya) – bahasa jawanya menyisingkan artinya cicing – jua berguling- guling karena kesakitan, oleh karena itu desa tadi diberi nama cicingguling.

Begitu pula di daerah pegunungan dieng di jawa tengah juga pada puncak gunung lawu di perbatasan antara jawa tengah serta jawa timur, nama-nama tempatnya diberi kesan seolah-olah daerah tadi ialah tempat keberadaan para ilahi dalam cerita mahabharata.

Saat agama Islam tiba ke indonesia, bahkan sang keliru satu wali sanga (sembilan wali) – sunan kalijaga – wayang dijadikan alat untuk penyebaran kepercayaan islam yang memasukkan unsur islam dalam kandungan cerita mahabharata.

Sebagai model: yudhisthira menjadi raja di amartapura mempunyai jimat (pusaka) yang bernama “jamus kalimasada” yg adalah pegangan atau lambang keunggulan menjadi raja diterjemahkan sebagai “kalimat sahadat” yg melambangkan keunggulan islam menjadi pegangan hidup dengan pengakuan “tiada dewa selain allah dan nabi muhammad ialah utusan allah”.

Konon diceritakan yudhisthira belum mampu meninggal sebelum ada yg bisa menjabarkan jimat “kalimasada” yg kemudian pada pertapaannya bertemu menggunakan sunan kalijaga di hutan glagahwangi. Sunan Kalijaga melihat jamus “kalimasada” yg ternyata selembar kulit dengan goresan pena “kalimat sahadat”.

Sesudah dibacakan dan ditirukan oleh yudhisthira yg berarti meng-islamkannya, yudhistira bisa menemui ajalnya menjadi seorang muslim. (note: Jika dipikirkan secara rasional tentu saja tidak masuk akal sebab puntadewa bagaimanapun adalah produk berasal budaya hindu asal dari cerita fiksi epic mahabharata.

Tentu saja ini merupakan kemampuan berpikir asal wali sanga buat meng-islamkan masyarakat yg di ketika itu masih dominan beragama hindhu. pada hal seberapa besar islam betul-benar secara effektif mempunyai impak yang besar pada wayang kulit warga islam masih banyak mencurigai.

Oleh sebab itu terdapat sebahagian warga islam bahkan mengharamkan “wayang purwo/kulit” yg jelas nafas hindunya atau jawanya lebih menonjol dibandingkan dengan nafas islamnya, lepas dari fenomena bahwa wayang kulit masih tetap digemari masyarakat jawa yg islam juga yg bukan islam.

C. Peran Pemerintah Terhadap Kesenian Adiluhung Mirip Wayang Kulit

wayang kulit
via pinterest . com

Keterlibatan pemerintah sentra maupun daerah pada melestarikan seni wayang kulit, sangat penting. sebab Jika pemerintah telah mendukung, contohnya menggunakan menghimbau instansi pemerintah buat mulai balik menggelar pertunjukan wayang kulit buat banyak sekali program perayaan, maka wayang kulit tak akan punah.

Bila pemerintah ikut cawe-cawe (ikut campur, -red), maka pertunjukan wayang kulit akan fertile kembali. sebab segala sesuatu itu Jika telah menerima campur tangan pemerintah, absolut akan berjalan dengan baik.

Istilahnya, Bila ketua telah berkehendak, yang bawah tinggal mengikuti. yang menjadi keprihatinan adalah sikap pemerintah ketika ini yang seakan menutup mata dengan seni-seni tradisional jawa di khususnya. pemerintah seolah tidak mau peduli dengan kebudayaan bangsa yg luhur ini.

Coba kita lihat sekarang seni ketoprak, wayang orang, topeng, termasuk wayang kulit sendiri seolah hidup enggan, mangkat tidak mau. Dan pemerintah menutup mata terhadap hal itu. selama ini justru dukungan terhadap wayang kulit tiba dari orang-perorangan yang masih peduli serta senang menggunakan wayang kulit.

Tidak sporadis orang asing yang justru peduli dan menyisihkan uangnya untuk keperluan pertunjukan wayang kulit, kita tengok saja seperti mahasiswa asal belanda yg beramai-ramai memeriahkan pagelaran wayang kulit pada amsterdam, belanda.

Wayang Golek

wayang kulit
via budayaonlineweb.blogspot . com

Wayang golek merupakan satu dari sekian banyak jenis kesenian wayang. Untuk mengetahui pengertian wayang golek bisa engkau simak uraian singkat pada bawah ini.

Mengatur gamelan wayang ialah bentuk teater masyarakat yang sangat populer, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Orang acapkali menghubungkan istilah “wayang” dengan “bayang”, karena dipandang asal pertunjukan wayang kulit yang memakai layar, pada mana timbul bayang-bayang.

Di Jawa barat, selain dikenal wayang kulit, yang paling populer artinya wayang golek . Istilah golek dapat merujuk kepada dua makna, menjadi kata kerja istilah golek bermakna ‘mencari’, sebagai kata benda golek bermakna boneka kayu.

Brkenaan dengan wayang golek, ada 2 macam di antaranya wayang golek papak (cepak) serta wayang golek purwa yang ada pada wilayah sunda. kecuali wayang orang yang ialah bentuk seni tari-drama yg ditarikan manusia, kebanyakan bentuk kesenian wayang dimainkan sang seorang dalang menjadi pemimpin pertunjukan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan antawagu serta lain-lain.

Sumber sejarah mengenai lahirnya kesenian wayang golek memang tak banyak yg mampu kita jadikan pedoman. akan tetapi beberapa sejarawan dan seniman meyakini bahwa pencetus kesenian wayang golek merupakan sunan kudus.

Di masa tadi wayang golek dipergunakan sang sunan suci dalam syiar dan dakwah kepada masyarakat. hal ini dilakukan agar apa yang ingin disampaikan sunan kepada masyarakat tentang aturan dan syariat islam mampu lebih dipahami dan diresapi oleh warga .

Wayang golek ialah pertunjukan kesenian wayang dimana tokah pewayangan yg dipergunakan dalam kiprah suatu cerita memakai boneka yang terbuat dari kayu. sedangkan pemainnya artinya seseorang dalang. sebagai galat satu asal jenis wayang, wayang golek memang mempunyai banyak kemiripan menggunakan wayang kulit khususnya tentang tokoh serta cerita tertentu.

Di perkembangannya wayang golek lebih dikenal menjadi kesenian tradisional yang dari dari jawa barat, dimana bahasa dalam pementasan menggunakan bahasa sunda. disinyalir wayang golek mulai tumbuh dan berkembang pada wilayah jawa barat pada pertengahan abad xvii.

Pada abad XIX pementasan wayang golek mendapat inovasi baru menggunakan diiringi nyanyian sebagaimana kesenian wayang kulit dimainkan, yakni diiringi dengan seseorang sinden yang berperan menjadi penyanyai atau pada bahasa jawanya disebut menggunakan “uyon-uyon”. Sampai ketika ini kesenian wayang golek masih tak jarang dipentaskan baik pada acara selamatan juga sekedar sebagai hiburan semata.

Sejarah Wayang Golek

Wayang golek adalah salah satu bentuk seni pertunjukan yang tumbuh serta berkembang pada wilayah Jawa Barat. daerah penyebarannya terbentang luas berasal Cirebon pada sebelah timur sampai wilayah banten pada sebelah barat, bahkan di daerah Jawa Tengah yg berbatasan dengan Jawa Barat acapkali pula dipertunjukkan pergelaran wayang golek.

Yg dimaksud dengan wayang golek purwa dalam goresan pena ini adalah pertunjukan boneka (golek) wayang yang cerita pokoknya bersumber di cerita mahabharata serta ramayana. Kata purwa mengacu di pakem pedalangan gaya jawa barat serta jua surakarta yang bersumber di serat pustaka Raja Purwa Karya R Ng.

Ranggowarsito. Ia berhasil mengolah cerita-cerita yg bersumber berasal kebudayaan india yg dialkulturasikan dengan kebudayaan asli indonesia. golek sunda artinya seni pertunjukan tradisi yg berkembang di tanah Sunda, Jawa Barat. Tidak selaras dengan wayang kulit yg dua dimensi, boneka wayang golek ialah galat satu jenis wayang trimatra atau tiga dimensi.

Menurut C.M Pleyte, bahwa rakyat di jawa barat mulai mengenal wayang pada tahun 1455 saka atau 1533 masehi pada prasasti batutulis. Di abad 16 dalam naskah ceritera parahyangan juga disebutkan berulang-ulang kata-kata oleh pandawa ring / kuningan.

Pendapat lain yg berkenaan dengan penyebaran wayang pada jawa barat adalah di masa pemerintahan Raden Patah berasal kerajaan Demak, kemudian disebarluaskan para Wali Sngo. termasuk sunan gunung jati yg pada tahun 1568 memegang kendali pemerintahan di kasultanan Cirebon.

Beliau memanfaatkan pergelaran wayang kulit sebagai media dakwah buat penyebaran kepercayaan islam. baru kurang lebih tahun 1584 masehi galat satu sunan dari dewan Wali Sngo yang membangun wayang golek, tidak lain artinya Sunan Kudus yg menciptakan wayang golek pertama.

Pada ketika Kabupaten-kabupaten di Jawa Barat terdapat di bawah pemerintahan Mataram, ketika jaman pemerintahan Sultan Agung (1601-1635), mereka yg menggemari seni pewayangan lebih meningkat lagi pada penyebarannya, ditambah lagi banyaknya kaum bangsawan sunda yang datang ke Mataram buat menelaah bahasa jawa pada konteks kepentingan pemerintahan, pada penyebarannya wayang golek dengan adanya kebebasan pemakaian bahasa masing-masing, seni pewayangan lebih berkembang, serta menjangkau hampir semua jawa barat.

Menurut penjelasan Dr.Th. Pigeaud, bahwa keliru seseorang bupati sumedang mendapat gagasan buat menghasilkan wayang golek yg bentuknya meniru wayang kulit seperti dalam cerita ramayana serta mahabharata. Perubahan bentuk wayang kulit menjadi golek secara berangsur-angsur, hal itu terjadi pada lebih kurang abad ke 18-19.

Inovasi ini diperkuat menggunakan adanya gosip, bahwa di abad ke-18 tahun 1794-1829 dalem bupati bandung (karanganyar), menugaskan ki darman, seseorang juru wayang kulit dari tegal jawa tengah, yang berdomisili pada cibiru, jawa barat, buat membentuk bentuk golek purwa.

Di abad ke-20 mengalami perubahan-perubahan bentuk wayang golek, semakin menjadi baik serta sempurna, seperti wayang golek yang kita ketemukan sekarang ini. wayang golek yang mirip ini kita sebut wayang golek purwa Sunda.

Dalam perjalanan sejarahnya, pergelaran wayang golek mula-mula dilaksanakan oleh kaum bangsawan. terutama peran penguasa terutama para bupati pada jawa barat, memiliki dampak besar terhadap berkembangnya wayang golek tersebut. Di awalnya pertunjukan wayang golek diselenggarakan sang para priyayi (kaum bangsawan sunda) dilingkungan istana atau kabupaten buat kepentingan langsung juga buat keperluan umum .

Fungsi pertunjukan wayang tadi bergantung pada permintaan, terutama para bangsawan pada waktu itu. pergelaran tersebut buat keperluan ritual spesifik atau pada rangka tontonan/hiburan. pertunjukan wayang golek yg sifatnya ritual, walupun terdapat tetapi telah jarang sekali di pentaskan.

Misalnya upacara sedekah laut serta sedekah bumi, setiap tahun sekali. Pementasan yg masih semarak artinya pertunjukan wayang golek buat keperluan tontonan. umumnya diselenggerakan buat keperluan memperingati hari jadi kabupaten, hut kemerdekaan ri, syukuran serta lain sebagainya.

Andaipun demikian, bukan berarti esensi yang mengandung nilai tuntunan dalam pertunjukan wayang golek sudah hilang, tak demikian halnya. Hasil wawancara asal beberapa tokoh wayang, contohnya Bp. Barnas Sumantri (Jakarta), Tjetjep Supriyadi (Karawang), endin somawijaya (sukabumi), Dede Amung (Bandung), memberitakan bahwa Sejak tahun 60-an sampai tahun 70-an, fungsi nilai tuntunan masih bisa diterima khalayak penonton.

Tathun baru 70-an mulai terdapat pertunjukan menggunakan menghadirkan bintang pesinden/juru kawih yg terkenal, bahkan ketenarannya melebihi dalangnya. akhirnya pergelaran itu bisa diterima masyarakat, serta poly artis lain yg menirunya, meskipun sebagian berasal mereka belum bisa menerima pembaharuan tadi.

Berasal masyarakat, khususnya para seniman wayang (dalang, niyaga, pesinden), sejak itu mereka mulai mengadakan eksplorasi pertunjukan yg mengedepankan visualisasi tontonan dan hiburan. maka tidak mengherankan bila pada ketika itu, telah ada pertunjukan wayang golek yang mendatangkan tari jaipong yang menari pada atas panggung. itulah barangkali yang membuat esensi asal wayang tadi kurang begitu seimbang antara konsep wadah serta isi.

Bagi seniman wayang yang masih tetap mempertahankan nilai tuntunan, mereka permanen ingin berupaya membuatkan daya kreatifitasnya melalui ekuilibrium antara garap tuntunan serta tontonan.

Wadah, perangkat kasar, mencakup penggarapan unsur-unsur pedalangan (penggarapan tokoh, lakon, alur, sastera pedalangan, sabet, iringan dll). isi merupakan penggarapan esensi atau rohani dan pesan moral yg akan disampaikan.

Kesimpulannya, keberadaan wayang golek asal dulu hingga kini memang mengalami perubahan serta pengembangan ke arah modernisasi tanpa mengurangi nilai tradisional, dan esensinya selalu relevan dengan situasi zaman.(sumanto, makalah, konsep wadah serta isi)

Fungsi wayang golek pada tengah-tengah warga memiliki kedudukan yang sangat terhormat. pada samping sebagai sarana hiburan yang sehat, ia juga berfungsi menjadi media penjelasan dan pendidikan. Baik itu tentang moralitas, etika, adapt istiadat atau religi.

Yang tidak kalah pentingnya wayang golek itu pun berfungsi sebagai upacara ritual penolak bencana, upacara tersebut ngaruat. Hingga waktu ini wayang golek masih permanen digemari oleh masyarakat Jawa Barat, baik tua atau pun muda.

Ia masih tak jarang dipergelarkan pada berbagai pesta keramaian seperti khitanan, perkawinan, perayaan hari-hari besar , malam penggalangan dana, menjadi kaul/nazar, atau ngaruat buat memohon berkah dan keselamatan.

Di rakyat pedesaan, wayang golek dapat dijadikan alat buat mengukur status social seseorang. Merupakan jika pada kampong mereka ada orang yang menanggap wayang golek, apalagi dalangnya ternama, maka bisa dipastikan bahwa orang tersebut bisa dikatagorikan sebagai orang berada.

Sebagai teater, wayang golek adalah seni pertunjukan yg amat komplek sebab pada dalamnya ada banyak sekali cabang seni seperti seni rupa, seni sastra, suara, musik dan seni tari. Demikian juga dengan cara penyajiannya, dia tidak cukup hanya dimainkan sang seseorang dalang tetapi membutuhkan persoalan pendukung yg kadang-kadang melebihi 20 orang.

Dilema pendukung itu memang memiliki tugas dan fungsi masing-masing, namun semuanya permanen wajib mendukung dalang sebagai pusat pertunjukan. karena itu, dalam pergelaran wayang golek semua personal wajib menjadi suatu kesatuan yg utuh dan padu supaya seluruh dapat berjalan dengan tepat.

Bentuk Wayang Golek

Media utama pergelaran wayang golek adalah boneka yang terbuat berasal kayu (umumnya jenis kayu yg ringan), ditatah/doukir, dicat, diberi pakaian dan karakter sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan.

Boneka kayu yg menyerupai insan dengan stilasi disana-sini itu diklaim jua wayang golek, menggunakan demikian nama benda peraga dan nama jenis pertunjukannya itu sendiri sama yakni wayang golek.

Bentuk/badan wadag wayang golek sebenarnya dapat dipisah-pisah menjadi 3 (3) bagian yaitu bagian ketua beserta leher, tangan, dan badan. Ketiga bagian tadi dibuat secara terpisah buat kemudian disambungkan sehingga bentuknya tampak utuh mirip “manusia”.

Bagian leher dan ketua disambungkan sang bamboo yang sudah diraut kurang lebih sebesar jari kelingking sebagai akibatnya wayang tadi dapat menengok ke kiri dank e kanan mirip manusia.

Bagian bawah berasal bamboo itu diruncingkan, menembus badan wayang hingga ke bawah dan akhirnya berfungsi menjadi kaki yg akan ditancapkan pada batang pisang sehingga dapat berdiri kokoh. Asal bagian pinggang ke bawah dipasang kain yang berbentuk sarung sehingga tangan dalang yg memegang bambu tadi tidak tampak asal luar.

Bagian tangan didesain terpisah terutama di sendi bahu serta sedi siku. Sendi-sendi itu dihubungkan dengan benang/tali sehingga wayang tadi dapat berkecimpung menyerupai insan. bagian tangan tokoh-tokoh wayang tertentu diberi kelat bahu (hiasan pangkal lengan) atau gelang.

Demikian jua pada bagian-bagian tubuh wayang yang penuh dengan manik-manik, anting pendengaran, badong (hiasan punggung), keris serta sebagainya. adapun bentuk badan raut wajah, pakaian, hiasan, diadaptasi dengan karakter serta kedudukan tokoh wayang yang bersngkutan.

Sumber Cerita

Cerita di pertunjukan wayang golek sunda umumnya bersumber pada buku arjuna sasrabahu, ramayana, dan mahabarata, yaitu buku-kitab yg berasal asal kebudayaan hindu pada india.

Tetapi cerita yg paling banyak digemari warga merupakan mahabarata, bahkan dari lakon induk ini sudah lahir berpuluh-puluh cerita sempalan/carangan yang merupakan yang akan terjadi kreatifitas para dalang.

Musik

Musik yg dipergunakan buat mengiringi pergelaran wayang golek ialah karawitan sunda yg berlaraskan pelog/salendro. instrumen musik tadi ditabuh sang beberapa orang nayaga atau juru gending, adapun alat musik tadi lengkap ialah sebagai berikut :

  • Saron 1 saron 2 – peking – demung – selentem.
  • Bonang – rincik – kenong – gambang.
  • Rebab – kecrek – kendang – bedug.
  • Gong.

Kedudukan musik pada pergelaran wayang golek demikian pentingnya, beliau merupakan bagian yang tidak terpisahkan berasal pertunjukan itu sendiri.

Mulai berasal tatalu (overture) kawin/lagu, tari dan perang wayang, dialog, pembangunan suasana, pengisi celah antar adegan, semuanya diiringi menggunakan musik. Di samping itu, musik itu pun harus disesuaikan menggunakan karakter-karakter wayang yang diiringinya. Misalnya :

Satria ladak, mirip narayana, karna, salya, somantri, wajib diiringi menggunakan gending gawil
Satria lungguh, seperti arjuna, abimanyu, pandu, semiaji, diiringi menggunakan gending banjar sinom atau udan mas.

Ponggawa, seperti gatotkaca, indrajit, baladewa, biasa diiringi dengan gending bendrong, waled, dan macan ucul.

Raja-raja, mirip kresna diiringi dengan gending kastawa, rahwana menggunakan gending gonjing atau genggong

Sinden atau Juru Kawih

Sinden atau pasinden, pada pergelaran wayang golek seringkali jua dianggap juru kawin, juru sekar, atau suarawati. tugasnya artinya melantunkan lagu/kawin buat mendukung hidangan dalang. Menjadi pendukung, tentu saja pasinden ini tidak dibenarkan melantunkan lagu semena-mena, dia harus bisa mendukung apa yang sedang dan akan dibawakan sang dalang.

Misalnya saat dalang membawakan adegan duka maka syair (rumpaka) lagunya pun harus bermakna duka, ketika dalang membawakan adegan romantis maka syairnya pun harus romantis. demikian jua saat dalang akan menceritakan adegan pada astina, maka pasinden ini terlebih dahulu harus bisa memberikan ilustrasi keadaan negara astina pada penonton melalui syair-syair lagunya.

Bahasa yang digunakan dalang serta bahasa yang digunakan pasinden kentara berbeda fungsi. bahasa dalang manfaatnya buat mengungkapkan cerita, sedangkan bahasa yg digunakan pasinden buat memberikan ilustrasi serta mempertegas lukisan-likisan peristiwa yg dituturkan dalang.

Di ketika jarak atau pengisi celah antar adegan (ketika dalang istirahat), pasinden ini umumnya diberi kesempatan buat membawakan lagu/kawin tanggal yang tidak terikat menggunakan cerita. sering pula lagu-lagu itu dipesan sang penonton dengan memberi tips yang tidak dipengaruhi besar-kecilnya.

Sebuah pergelaran wayang golek umumnya memerlukan antara dua-lima orang pasinden ditambah dengan alok atau wirasuara (laki-laki ). Semuanya tentu saja dituntut wajib memiliki bunyi yang indah dengan kepekaan yang tinggi terhadap musik serta karater Dalang.

Bahasa dan Sastra Dalang

Pada dasarnya bahasa/percakapan antar tokoh pada pergelaran wayang golek ialah bahasa wilayah, pada hal ini artinya bahasa sunda dengan undak-undaknya yg diklaim amardibasa atau tata bahasa.

Andaipun demikian, buat tokoh-tokoh wayang tertentu mirip bima serta togog umumnya menggunakan bahasa indonesia. penggunaan bahasa tadi dilakukan para dalang untuk menyampaikan variasi serta karakter pada wayang yang berjumlah ratusan.

Demikian juga pada penyampaian prolog yang pada istilah teknisnya dianggap murwa serta nyanda, di umumnya para dalang menggunakan bahasa jawa kuno yang dituturkan sambil dinyanyikan dalam lagu tertentu.

Prolog ini sebenarnya berisi penuturan yang menggambarkan suasana adegan yg sedang atau akan digarap sang dalang. Selain murwa dan nyandra, pada sastra pedalangan dikenal juga suluk dan kakawen yg manfaatnya untuk menggambarkan suasana serta karater wayang yg sedang ditampilkan.

Disparitas suluk lebih menitikberatkan kepad bahasanya sedangkan kakawen kepada karawitannya, terutama wacana melodi. baik suluk atau kakawen, keduanya dituturkan/dinyanyikan menggunakan memakai bahasa jawa kuno.

Di perkembangan selanjutnya para dalang mulai terdapat yang menggunakan bahasa sunda, baik buat murwa dan nyandra, atau buat suluk dan kakawen. Dalam menyempaikan lakon/cerita, seseorang dalang tidak dibenarkan menggunakan bahasa yg vulgar serta tidak beraturan. buat itu disusunlah rambu-rambu spesifik yg disebut Panca Curiga atau Panca S. Lengkapnya Panca S itu adalah sindir, silib, siloka, simbul dan sasmita yang memiliki ari menjadi berikut:

1. Sindir

Adalah kritik-kritik, kecaman-kecaman atau kebanggaan yang pada ungkapkan pada suatu cerita, yang disusun sedemikian rupa sehingga wajib dan tidak secara pribadi menyinggung hati yg dikritik atau dikecamnya.

2. Dua Silib

Silib artinya suatu penerangan atau petuah yang diselipkan di pada suatu tema, babak atau adegan eksklusif.

3. Siloka

Siloka merupakan kalimat-kalimat yg harus digali pulang Jika ingin mengetahui arti yg sesungguhnya.

4. Simbol

Simbol merupakan perlambang yang harus dicari atau ditafsirkan sendiri apa makna yg sesungguhnya.

5. Sasmita

Yg dimaksud sasmita ialah isyarat atau tanda. Hakikatnya panca curiga tadi adalah suatu kesatuan yg utuh dan antara satu sama lainnya tidak bisa dipisah-diamkan. Manfaatnya ialah buat memberikan “batasan” pada dalang serta artis pendukung wayang golek agar pada mengucapkan kata (eksklusif), sebab hal itu bisa menyinggung orang lain dan menurunkan derajat dan nilai seni pedalangan yang mereka anggap adiluhung.

Susunan Pengadengan

Yang dimaksud menggunakan susunan pengadegan disini adalah pola cerita atau struktur dramatik. alur cerita dalam pergelaran wayang itu tidak begitu krusial sebagai akibatnya kemapanan pola cerita tidak akan rusak karena itu.

Seraca garis besar susunan pengadegan itu terbagi sebagai beberapa bagian, yaitu : Karatonan, pasebanan, bebegalan, karaton lain, perang papacal, gara-gara, panditaan, perang kembang, perang barubuh, dan karatonan.

1. Karatonan

Menceritakan keadaan di keratin negara versus (berlawanan) yg umumnya sedang menghadapi kesulitan akbar. para pembesar negeri itu tengah bermusyawarah buat mencari jalan keluar dari kesulitan, kemudian salah seseorang yang hadir mengajukan satu cara. oleh raja menyetujuinya, kemudian menugaskan para pembesar buat menyiapkan diri.

2. Pasebanan

Para pembesar negara sedang mengadakan persiapan dengan bencana tentaranya di penghadapan. mereka menerima tugas dari rajanya, yg pada dasarnya perintah tersebut akan merugikan pihak lain.

Rombongan itu pulang menuju negara versus dipimpin sang senapati andalannya. pimpinan rombongan umumnya akan mengendarai kuda atau gajah yg akan divisualisasikan dalang dalam bentuk tarian jaranan yang menarik

3. Bebegalan

Saat di sebuah hutan, rombongan ini dihadang oleh kawanan raksasa yg marah karena terganggu ketenteramannya. perang tidak dapat dihindari dan akhirnya raksasa itu dapat dikalahkan rombongan melanjutkan perjalanannya.

4. Karaton Lain

Menceritakan keadaan di keratin negara lain, yaitu keratin tokoh utama/protagonist. keraton inipun umumnya tengah menghadapi masalah. contohnya kehilangan pusaka, sakit, mimpi buruk oleh raja, serta sebagainya. saat mereka sedang bermusyawarah, datang-datang dating pasukan versus yang membuat kerusuhan.

5. Perang Papacal

Terjadi peperangan “mungil” antara kedua belah pihak perang ii bias dimenangkan sang si baik atau si jahat, tapi umumnya si jahat tadi dapat melarikan diri menggunakan membawa apa yg diingininya.

6. Gara-gara

Gara-gara ini ialah adegan komedi yang dilakukan sang para punakawan (cepot, dawala, gareng) buat menghibur ksatria asuhannya yang sedang berguru pada sebuah patapan. Adegan ini umumnya sangat dinanti-nantikan penonton karena penuh canda serta tawa sebagai akibatnya dapat menghilangkan rasa kantuk.

Sesudah lawakan usai, muncullah ksatria (tokoh primer) tersebut menggunakan pendita yang sebagai gurunya. Oleh guru menyampaikan wejangan pada muridnya. adegan diakhiri menggunakan perginya oleh tokoh utama diiringi sang para punakawan buat menunaikan darma baktinya.

7. Perang Kembang

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan rombongan lawan sehingga terjadi pertempuran. pada pertempuran ini musuh bisa dikalahkan sebagai akibatnya mereka melarikan diri.

8. Perang Barubuh

Tokoh utamanya mengejar musuh hingga kenegaranya buat menuntut balas serta menyelematkan apa yang sudah dicurinya sang pihak versus, maka terjadilah perang besar (adegan kulminasi) dan diakhiri menggunakan kekalahan pihak musuh. raja musuh tersebut bisa ditawan atau ditewaskan.

9. Karatonan

Semua adegan umumnya berakhir pada sebuah keratin dengan dihadiri oleh seluruh keluarga tokoh utama. konklusi akhirnya kejahatan akan dikalahkan sang kebajikan.

10. Saat dan Daerah Pertunjukan

Wayang golek sunda bisa dipertunjukkan siang hari ataupun malam. Hal ini dikarenakan pergelaran tadi tidak menggunakan kelir seperti halnya pergelaran wayang kulit asal jawa tengah atau jawa timur.

Pertunjukan siang hari umumnya dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00 wib, sedangkan pertunjukan malam hari diselenggarakan mulai pukul 21,30 sampai menjelang azan subuh.

Daerah pertunjukan bias dilaksanakan dimana saja, di pada ruang tertutup atau pada kawasan terbuka dari kawasan tadi bisa menampung jumlah pemain dan penontonnya. Baik pada dalam ruangan ataupun di daerah terbuka pergelaran wayang golek membutuhkan anjung.

Panggung tadi umumnya lebih tinggi dari di kedudukan penonton, hal ini dimaksudkan supaya para penonton tadi bisa melihat menggunakan jelas jalannya pertunjukan.Pada atas panggung dipasang 2 batang pohon pisang (gedebog) yang panjangnya kurang-lebih 1,5 meter menjadi area permainan atau buat menancapkan wayang.

Posisi kedua gedebog itu ditinggikan lebih kurang 80 centimeter menggunakan memakai penopang berasal kayu yang telah dosediakan. pada kanan-kiri area pertunjukan dipasang jua gedebog dengan posisi yg lebih rendah, fungsinya merupakan buat menancapkan wayang-wayang yang sedang tidak terpakai. Wayang-wayang tadi dipasang berjajar dari aturan yg telah standar.

Video Wayang Kulit dan Golek Oleh Dalang Internasional

Video ini menerangkan siapa yang paling benar NU atau Muhammadiyah ? Penasaran! monggo ditingali (Dalang Ki Enthus Susmono).

 

Ceramah lucu oleh ki Enthus Susmono…

 

 

Adegan lucu ketika Begawan Durna di hajar Antareja dan Antasena ketika ketahuan menyamar menjadi Prabu Kresna dalam pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk oleh Dalang Ki Seno Nugroho dengan Lakon Wahyu Katentreman.

Profil Dalang Entus

wayang kulit
via infotegal . com

Ki Enthus Susmono (lahir di Tegal, 21 Juni 1966) merupakan seseorang dalang berkebangsaan Indonesia. Semenjak 8 Januari 2014, beliau dilantik menjadi Bupati Tegal oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, buat periode 5 tahun mendatang.

Anak satu-satunya Soemarjadihardja, dalang wayang golèk Tegal dengan istri ke-3 bernama tarminah. Bahkan r.m. Singadimedja, kakek moyangnya, ialah dalang populer asal Bagelen pada masa pemerintahan sunan amangkurat pada mataram.

Ki Enthus Susmono dengan segala perannya yang kreatif, inovatif serta intensitas eksplorasi yg tinggi, telah membawa dirinya menjadi salah satu dalang kondang dan terbaik yang dimiliki negeri ini. Pikiran dan darah segarnya mampu menjawab tantangan serta tuntutan yg disodorkan oleh dunianya, yaitu jagat pewayangan.

Gaya sabetannya yang spesial, kombinasi sabet wayang golek serta wayang kulit membuat pertunjukannya tidak sama menggunakan dalang-dalang lainnya. Ia juga mempunyai kemampuan dan kepekaan pada menyusun komposisi musik, baik terkini maupun tradisi (gamelan).

Kekuatan mengintrepretasi serta mengadaptasi cerita serta kejelian membaca isu-gosip modern membuat gaya pakeliran-nya menjadi hayati dan interaktif. Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artisitik kelir menjadikannya lakon-lakon yang ia bawakan bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual, serta menghibur.

Pada tahun 2005, beliau terpilih menjadi dalang terbaik se-indonesia pada festival wayang indonesia yg diselanggarakan di taman budayajawa timur. Serta pada tahun 2008 ini beliau mewakili indonesia pada event festival wayang internasional pada denpasar, bali.

Ia adalah keliru satu dalang yang mampu membawa pertunjukan wayang menjadi media komunikasi serta dakwah secara efektif. Pertunjukan wayangnya kerap dijadikan menjadi ujung tombak untuk memberikan acara-program pemerintah pada warga mirip: Kampanye; anti-narkoba, anti-hiv/aids,ham, dunia warming, acara kb, pemilu tenang, serta lain-lain.

Di samping itu beliau juga aktif mendalang di beberapa pondok pesantren melalui media wayang wali sanga. Kemahiran serta ‘kenakalannya’ mendesain wayang-wayang baru/kontemporer seperti wayang george bush, saddam hussein, osama bin laden, gunungantsunami aceh, gunungan harry potter, batman, wayang alien, wayang tokoh-tokoh politik, dan lain-lain menghasilkan pertunjukannya selalu segar, penuh daya kejut, serta mampu menembus majemuk segmen masyarakat.

Ribuan penonton selalu membanjiri waktu dia mendalang. Keberaniannya melontarkan kritik terbuka dalam setiap pertunjukan wayangnya, memosisikan tontonan wayang bukan sekadar media hiburan, melainkan juga menjadi media alternatif buat menyampaikan aspirasi warga.

Baginya, wayang ialah sebuah kesenian tradisi yg tumbuh serta wajib selalu dimaknai kehadiriannya supaya tak beku dalam kemandegan. Daya kreatif dan inovasinya sudah mewujud dalam aneka macam bentuk hidangan wayang, diantaranya: Wayang planet (2001-2002), wayang wali (2004-2006), wayang prayungan (2000-2001), wayang rai wong (2004-2006), wayang blong (2007) serta lain-lain.

Museum rekor global indonesia-pun (muri) menganugerahi dirinya menjadi dalang terkreatif menggunakan kreasi jenis wayang terbanyak (1491 wayang). Dan beberapa wayang kreasinya telah dikoleksi oleh beberapa museum besar di dunia diantaranya; tropen museum pada amsterdam belanda, museum of internasional folk arts (moifa)new mexico, serta museum wayang walter angts jerman. Semuanya tidak lain dimuarakan buat mempertinggi apresiasi rakyat luas terhadap wayang, penajaman pasar, dan membumikan kembali wayang kulit pada tanah air tercinta ini.

Profil Dalang Anom Suroto

wayang kulit
via putrakaranganyar.blogspot . com

Ki anom suroto (lahir di juwiring, kabupaten klaten, jawa tengah, 11 agustus 1948; umur 69 tahun) artinya seorang dalang wayang kulit purwa. dia mulai populer menjadi dalang semenjak sekitar tahun 1975-an. ilmu pedalangan dipelajarinya sejak umur 12 tahun berasal ayahnya sendiri, ki sadiyun harjadarsana. selain itu secara pribadi dan tidak langsung ia poly belajar asal ki nartasabdo serta beberapa dalang senior lainnya.

Dalang laris itu juga pernah belajar di kursus pedalangan yang diselenggarakan himpunan budaya surakarta (hbs), belajar secara tidak langsung asal pasinaon dalang mangkunegaran (pdmn), pawiyatan kraton surakarta, bahkan pernah juga belajar pada habiranda, yogyakarta. waktu belajar di habiranda ia memakai nama samaran margono.

Karir
Di tahun 1968, anom suroto sudah tampil pada rri (radio republik indonesia), sesudah melalui seleksi ketat. tahun 1978 ia diangkat menjadi abdi dalem penewu anon-anon dengan nama mas ngabehi lebdocarito.

Sampai akhir abad ke-20 ini, anom suroto merupakan satu-satunya yang pernah mendalang pada lima benua, diantaranya di amerika perkumpulan di tahun 1991, pada rangka pameran kias (kebudayaan indonesia pada Alaihi Salam). ia pernah pula mendalang pada jepang, spanyol, jerman barat, australia, serta banyak negara lainnya. spesifik buat menambah wasasan pedalangan mengenai yang kuasa-yang kuasa, dr. soedjarwo, ketua awam sena wangi, pernah mengirim ki anom suroto ke india, nepal, thailand, mesir, serta yunani.

Tahun 1995 ia memperolah satya lencana kebudayaan ri berasal pemerintah ri.

Pada tahun 1993, pada angket wayang yg diselenggarakan pada rangka pekan wayang indonesia vi-1993, anom suroto terpilih menjadi dalang kesayangan.

Dalam organisasi pedalangan, anom suroto menjabat sebagai ketua iii pengurus sentra pepadi, buat periode 1996 – 2001.

Anom suroto yang pernah mendapat hadiah nama lebdocarito asal keraton surakarta, pada 1997 diangkat menjadi bupati sepuh menggunakan nama baru kanjeng raden tumenggung (krt) lebdonagoro.

Tinggalkan komentar