Mengapa Harus Uang Kertas? “Bangga Dengan Surat Utang”

“Selamat Datang di Alihamdan 101”

Artikel nyeleneh cari traffic aja sih, kayaknya ngga cocok buat bacaan orang pintar. Ilmu yang tak sepenuhnya diajarkan di bangku sekolahan.

Zaman Baheula

Diawali dengan sebuah cerita. . .

Dulu banget, orang melakukan transaksi tukar menukar dengan barang atau disebut barter. Transaksi ini dirasa kurang praktis karena harus bawa-bawa barang kemana-mana.

Lalu datanglah bankir pedagang emas memberi solusi agar transaksi perdagangan menjadi praktis. Maka saat itulah dimulai babak baru, emas, perak, dan tembaga dijadikan sebagai alat tukar alias uang.

Hal ini merupakan kondisi ideal sebab emas itu ada nilai fisiknya (jadi uang itu betul-betul ada harganya).

Akan tetapi jika emasnya banyak rawan perampokan atau pencurian, oleh karena itu para bankir pedagang emas datang kembali dengan memberikan solusi.

Maka dimulai lah era baru. Awalnya, bank menjadi tempat penyimpanan emas para nasabah. Selanjutnya permainan berubah, nasabah yang menitipkan emas pada bankir diberi tanda terima berupa kertas yang disebut IOUI Owe You” (Aku Utang Padamu).

Inilah asal muasal uang kertas, bank menjadi sentra peredaran uang. Jadi sebenarnya IOU alias uang kertas itu adalah SURAT UTANG bukan uang sungguhan dan yang namanya bank sentra itu dari dulu memang swasta negara tak ikut campur dengan peredaran uang.

Sama seperti sekarang Pemerintah Indonesia, Presiden Republik Indonesia tak boleh ikutan campur urusan peredaran uang. Inilah sistem yang diterapkan di seluruh dunia sejak dulu banget.

Ngocol Nih

sejarah uang
dinarfirst.org

Persepsi yang dikembangkan adalah kertas yang sebenarnya tak ada nilainya itu apabila diterbitkan oleh para bankir maka akan bernilai sama dengan emas.

Padahal orang tak pernah lihat emasnya di mana dan seberapa banyak. Para bankir swasta menjelma jadi tuhan yang menciptakan kertas jadi senilai dengan emas, luar biyasah!!!

Maka dengan adanya peristiwa itu terjadilah problem besar hingga sekarang, kebanyakan orang tak tahu apa bedanya Money vs Currency ini adalah dua hal yang sangat berbeda jauh apalagi kalo dalam Bahasa Indonesia.

“Money = Uang sedangkan Currency = Mata Uang”

Uang atau money itu ada nilai intrinsiknya. Emas ada harganya, jaman barter dulu kambing ada harganya, ayam ada harganya. Sebaliknya uang kertas alias currency itu tak ada nilai intrinsiknya.

Akibat dari itu semua muncullah yang namanya INFLASI harga-harga melambung tinggi.

Mata uang (currency) itu berfluktuasi nilainya, dalam jangka panjang nilainya akan terus-menerus berkurang. Kondisi ini lebih dikenal dengan istilah Inflasi.

Inflasi secara diam-diam merupakan pembunuh mata uang yang nyata, karena kamu tidak bisa mendengar, mencium, dan melihatnya.

Lalu secara tiba-tiba kamu akan ditabrak olehnya ketika pergi ke toko, atau ke pom bensin, atau bahkan saat kamu membeli mobil. Dengan itu kamu akan terasa “gubrak kayak ditendang kuda” kok harganya naik?

Inflasi menghantamkan kamu secara pasti seperti digigit ular derik berbisa, setidaknya ular tersebut masih baik karena memperingatimu (dengan bunyi deriknya).

Jadi anggap saja tulisan ini peringatan buat kamu bahwa: “Inflasi akan membunuh uang simpananmu” Jika kamu membiarkannya.

Inilah sebuah sistem yang menguntungkan segelintir elit yang punya hak mencetak uang dengan merugikan umat lain di dunia.

Problem pun bertambah lagi, semua orang mengira bahwa uang kertas yang diterbitkan oleh bankir itu di backup dengan emas “awalnya kan orang tarok emas, dapat surat utang IOU jadi wajar saja jika orang mengira kalo uang kertas itu pasti ada backup emasnya.

Padahal nyatanya tidak demikian, para banker itu nyetak duit tanpa adanya backup emas (Modal Dengkul).

Sistem keuangan modern inilah yang diajarkan di seluruh sekolah di dunia, baru akan ketahuan bohongnya kalo sama-sama tarik duit dari bank pada waktu yang bersamaan.

Source: flat earth 101 😀